Cerita Dari Bobo

Kuncir Kuda Raina

Rambut ekor kuda.

"Raina, sini sayang!" panggil Mama setelah Raina berganti baju. Di tangan Mama ada sebuah sisir. Raina dengan riang menghampiri Mama. Tanpa ditanya, Raina segera duduk di kursi kecil sambil menggerai rambutnya.

"Kuncir apa sayang?" tanya Mama bagai penata rambut.
"Ekor kuda aja, deh, Ma, kaya biasanya."

Mendengar itu, Mama jadi lesu. Memang, setiap pagi jika ditanya, jawaban Raina selalu sama. Ekor kuda, ekor kuda, ekor kuda... Mama ingin Raina berganti gaya. Pernah sekali Mama tidak menuruti permintaan Raina. Mama memodel Raina dengan gaya bak model-model terkenal. Mengetahuinya, Raina menangis sejadi-jadinya. Mama terpaksa bekerja dua kali. Alhasil Raina terlambat berangkat ke sekolah.

Kali ini, Mama mencari akal supaya kuncir Raina terlihat cantik. Semalam Mama membeli pita-pita, ikat rambut, bandana dan aksesoris rambut lainnya. Hari ini, Mama menambahkan kepang kecil di ekor kuda Raina. Setelah jadi, Mama mengikat rambut Raina dengan ikat rambut ungu. Kemudian, Mama memasang pita merah muda. Yes! Selesai!

"Raina, Raina mau pakai jepit rambut?" tanya Mama lembut.
"Tidak usah, Ma!" jawab Raina.
"Benar? Lucu-lucu, lho! Yakin tidak mau?" tanya Mama sekali lagi.
"Tidak!" tolak Raina tegas.

Mama tidak kekurangan akal. Mama pun menata jepit-jepit rambut di meja kecil dihadapan Raina. Seketika mata Raina membulat.
"Wah bagusnya!" Raina mengambil sebuah yang bergambar Hello Kitty. Mama tersenyum melihatnya.
"Oh iya Mama hampir lupa." Mama masuk kembali kedalam dan mengambil beberapa majalah model untuk anak-anak.
"Kamu lihat ini Raina!" Mama membalik-balik halaman menunjukkan gaya rambut anak-anak yang trendy. Raina tekmali bersemangt melihatnya. Mama tersenyum mengangkat cermin dari atas meja. "Salah satunya sudah Mama sisipkan di rambut kamu!"

"Wow terima kasih Mama!" Raina bergegas memeluk Mama. Raina bangga memiliki Mama yang tidak putus asa menyadarkan anaknya. Kini Rana berjanji akan mencoba gaya yang lain-lain.

Mama pun senang Raina mau mengerti dan mengubah gaya. Mama juga bertekad agar tidak ketinggalan jaman.
Raina semakin menyusup ke pelukan Mama. Mama pun memeluk erat tubuh Raina.

Dalam hati, Raina berjanji akan lebih menuruti Mama. Dalam benaknya, terbayang pita-pita yang akan menghiasi rambutnya dikemudian hari. Wah, bagaimana komentar teman-temannya nanti ya?

"Ma, aku mau berangkat sekolah dulu, ya," pamit Raina saat melihat Papa mengeluarkan mobil dari garasi. Tin!Tin! bunyi klakson mobil Papa. Raina mengulurkan tangan kepada Mama. Mama menyambutnya dengan senang hati. "Belajar yang rajin ya..." pesan Mama.

Raina dan Papa pun berangkat. Sampai di sekolah, rupanya banyak yang memuji rambut Raina. Raina jadi semakin sayang Mama.
Banyak yang memuji tatanan rambut Raina. Tidak terkecuali sahabat karib Raina. Alda dan Lunna.

"Hai Raina! Rambut kamu keren banget pagi ini! Siapa yang kuncir kamu? Aku juga mau, dong... pasti perias artis, ya? Hebat banget ya kamu. Bisa punya perias artis," komentar Alda setengah iri.
"Ah eng..." belum lengkap Raina bicara, Lunna menyela.
"Iya! Kamu kenapa tidak bilang pada kita-kita kalau sekarang kamu punya rias artis?" tanya Lunna.
"Aku tidak punya rias artis kok! Yang kalian bilang tadi itu Mamaku! Mamaku itu yang kalian sangka Rias artis! Hi.. hi.." jawab Raina geli. Kedua sahabatnya jadi salah tingkah.

Kemudian gaya rambut Raina jadi lebih trendy dan keren. Eh, tapi ini semua berkat Mama. Terima kasih Mama...

Author

Sigit Wahyu

Tags