Cerita Dari Bobo

Perbedaan Si Kembar

Perbedaan Si Kembar

Tak jauh sebuah telaga biru ada sebuah rumah mungil yang terpencil.. Di rumah itu, tinggallah saudara kembar, Ana dan Ani.

Wajah mereka berdua sama-sama bundar. Mata, hidung, mulut, semuanya identik atau sama. Mulai dari selera baju sampai makanpun mereka kompak. Namun, benarkah mereka bagaikan satu jiwa di dalam dua tubuh?

Suatu hari, mereka berdua berpiknik di tepi telaga. Wow, betapa senangnya! Setibanya di lokasi, Ana menyantap roti keju perlahan-lahan.

Sebelah telapak tangannya menampung di bawah dagu. Supaya remah-remah roti tidak berserakan. Sedangkan Ani menggigit roti kejunya dengan rakus. Mulutnya berdecap-decap.

"Hahaha... Tidak mirip sama sekali. Ani si ceroboh dan Ana si baik hati!"

Ani dan Ana segera menoleh ke arah asal suara itu.

"Hei, siapa kau? Kami yang sangat mirip begini, kau bilang tidak mirip!" hardik Ani.

Seorang kate setinggi lutut Ani keluar dari semak-semak. Matanya sipit, telinganya panjang dan lancip.

"Aku kurcaci!"

"Jadi kau tidak percaya, kalau sebenarnya kalian tidak mirip?" tanyanya sambil menunjuk Ani.

"Baiklah, akan kubuktikan ucapanku. Sekarang kalian masing-masing akan kuberi tiga permintaan."

Ani tidak mau menyia-nyiakan kesempatan. Ia langsung meminta sebuah boneka kelinci, sebungkus permen lolipop, dan buku komik.

Ani memilih seperangkat alat sekolah dan meja belajar baru. Sebab meja belajarnya sudah rusak. Ia menyisakan permintaan terakhirnya untuk keadaan yang benar-benar penting.

Sebulan berlalu. Ani, Ana dan kurcaci sering bermain bersama. Suatu hari, si kurcaci sakit keras. Ana dan Ani menjenguknya.

Ternyata, seorang kurcaci tidak bisa menggunakan sihirnya untuk menyembuhkan diri sendiri. Untung Ani mendapat akal.

"Aku ingin kurcaci sembuh," Ani mengucapkan permintaan ketiga yang belum diucapkannya . Maka sembuhlah kurcaci itu.

Tahu tidak apa yang dihadiahkan kurcaci itu untuk Ana sebagai rasa terima kasihnya? Lagi-lagi tiga buah permintaan!

 

LogoMajalah Bobo

Oleh : Susi, Bobo 50/XXVI

 

Author

Sigit Wahyu

Tags

Related Article