Cerita Dari Bobo

Robot Profesor Suma

Sumber: vectordiary.com

Professor Suma seorang ahli elektronika dan komputer. Ia sangat pandai membuat peralatan yang menggunakan teknologi komputer.

Professor Suma tinggal di Luxon, sebuah kota yang sangat sibuk. Sehari-harinya, Profesor Suma sangat sibuk, sehingga tak punya waktu untuk beres-beres rumah. 

Rumah Profesor Suma sangat berantakan. Setiap hari ia cuma makan mie instan atau membeli roti isi. Bajunya bau dan kusut karena jarang diganti.

"Hm, kurasa aku harus menciptakan robot yang akan membantuku menyelesaikan pekerjaan sehari-hari!" pikirnya suatu hari.

Maka mulailah Profesor Suma membuat robot. Ia menciptakan X-Cleanz, robot pembersih rumah. X-Cooki, robot tukang belanja dan memasak. X-Wazi, robot pencuci baju dan penyetrika. Mereka bekerja dengan cepat dan rapi.

Setiap hari penduduk Luxon menyaksikan X-Cooki berbelanja di pasar. X-Cleanz menyapu halaman, dan X-Wazi menjemur baju. Karena sering muncul di muka umum, ketiga robot ini menjadi berita besar.

 

Robot
 

Penduduk Luxon sangat kagum pada kehebatan tiga robot itu.  Mereka juga ingin memilikinya.

"Profesor, saya orang sibuk! Saya mau pesan tiga robot itu!" pesan Nyonya Arry lewat telepon.

"Profesor, saya butuh robot-robot seperti milik Anda," tulis Pak Jo melalui surat elektronik atau e-mail.

Professor Suma sangat gembira. Robot buatannya ternyata sangat laris. Ia kemudian bekerja siang malam.

Berkat kepandaiannya, ia mampu menyelesaikan semua pesanan dengan cepat. Dalam waktu singkat, Profesor Suma menjadi sangat kaya raya.

Di kota Luxon tinggallah keluarga Tobacci yang kaya raya. Pak Tobacci mempunya seorang anak yang sangat manja bernama Tobi. Ia malas belajar dan malas berpikir. Nilai ulangannya selalu jelek. Apalagi ulangan matematika.

"Ayah, mintalah Profesor Suma membuatkan robot penjawab soal untukku. Robot yang pandai pada semua mata pelajaran. Aku tak mau dapat nilai buruk lagi!" teriak Tobi pada suatu hari.

Pak Tobacci langsung setuju. Ia memang terlalu memanjakan Tobi. Pak Tobacci lalu memesan robot penjawab soal.

Ia bersedia membayar mahal untuk robot itu. Tanpa berpikir panjang, Profesor Suma menerima pesanan itu. Pak Tobacci dan Tobi sangat puas dengan kehebatan robot itu.

 

Robot
 

Tobi yang manja lalu meminta ayahnya memesan robot lainnya. Robot pembuka pintu, robot pemberes mainan, juga robot pengambil minuman.

 

Tobi merasa jadi anak yang paling beruntung di dunia. Ia tak perlu lagi melakukan pekerjaan yang sulit maupun yang mudah. Tobi kini bisa bermalas-malasan.

Kabar tentang robot-robot Tobi membuat iri anak-anak lainnya. Mereka beramai-ramai memesan robot yang sama. Professor Suma dengan senang hati memenuhi permintaan mereka.

Semakin hari semakin banyak dan beraneka ragam robot yang dihasilkan Profesor Suma. Ada robot pemijat, robot pemetik buah, robot penghibur, robot pemotong kuku.

Ada juga robot penggendong bagi mereka yang malas berjalan. Profesor Suma tidak pernah menolak pesanan karena ingin dapat uang banyak.

Agar tidak kelelahan, Profesor lalu membuat robot induk X-Make.
"X-Make adalah robot mesin cerdas yang bisa menggantikan aku membuat robot..." pikir Profesor gembira.

X-Make memiliki banyak tombol. Bila ingin memesan robot, tinggal menekan tombol tertentu. Profesor kini bisa lebih bersantai.

Kini kota Luxon dijuluki kota robot. Jumlah robot di sana hampir sama dengan jumlah penduduknya. Penduduk Luxon sekarang lebih banyak bersantai.

 

Robot
 

Demikian pula dengan Profesor Suma. Badannya kini menjadi gemuk sebab kerjanya hanya tidur-tiduran sambil makan dan nonton TV. Yah, X-Make membuatnya tak perlu bersusah payah lagi.

 

Suatu hari penyakit aneh menyerang penduduk Luxon. Badan mereka kaku dan tak bisa bergerak. Otot mereka melemah dan peredaran darah tidak lancar.

Penyakit aneh juga menyerang otak. Banyak orang tua, bahkan anak-anak menjadi pikun. Walikota Luxon kebingungan.

Ia memerintahkan dokter untuk memeriksa penduduk. Akan tetapi tugas dokter di Luxon juga telah digantikan robot pemeriksa, T-Medize.

T-Medize tak bisa menjawab. Pak Walikota kemudian memanggil seorang dokter dari sebuah desa kecil tak jauh dari Luxon.

Dokter itu memeriksa penduduk kota Luxon dengan teliti. "Pak Walikota, ini bukan penyakit yang diakibatkan virus.

Warga Anda diserang penyakit malas. Mereka malas bekerja, bergerak dan berpikir. Tubuh mereka kaku karena tak digerakkan. Otak mereka pikun akibat tak pernah digunakan," Pak Dokter menjelaskan.

"Lalu apa obatnya?" tanya Pak Walikota.
"Mudah saja. Kembali bergerak, bekerja, dan berpikir."

Pak Walikota mulai mengerti. Ia lalu meminta robot dipensiunkan kecuali robot-robot yang benar-benar penting bagi penduduk Luxon.

Sementara itu Pak Dokter masih terus memeriksa penduduk Luxon. Pasien terakhirnya adalah seorang kakek pikun berbadan sangat gemuk.

Badannya kaku tak bisa bergerak hampir seperti robot. Pasien itu bernama Profesor Suma.

 

LogoMajalah Bobo

 

Oleh Yulianita
Bobo No. XXXV

Author

Sigit Wahyu

Tags

Related Article