Cerita Dari Bobo

Surat untuk Bu Guru

Surat untuk Bu Guru

Koko merasa tidak bergairah pergi ke sekolah. Masalahnya, sebelum masuk kelas dan saat istirahat, teman-teman selalu bercerita tentang sirkus yang sedang bermain di alun-alun.

Koko iri mendengar Andi bercerita kehebatan pemain sulapnya. Tono menyambung cerita Andi yang kurang. Edi, Hirman serta teman lainnya ikut-ikutan mengiyakan. Mereka semua sudah melihat sirkus itu. Cuma Koko yang belum melihatnya. Koko ingin sekali menonton sirkus itu, namun setiap kali ia merengek, ayahnya menolak.

"Ini tanggal tua, Ko!" hardik Ayah. Kalau Ayah sudah marah, Koko langsung diam.

Ibu sebenarnya ingin mengabulkan permintaan Koko. Namun uangnya tinggal untuk kebutuhan makan, itu pun harus hemat.

Sudah dua hari Koko tak nafsu makan. Ibu berusaha membujuknya, "Sabarlah, Ko! Nanti, kalau Ayah sudah gajian, Koko boleh nonton."

Namun, Koko tetap bersikeras. Nasi dan lauk terasa pahit di mulutnya. Ibu khawatir kalau hal ini berlarut-larut, Koko akan jatuh sakit. Gawat! Itu 'kan berarti harus ' mengeluarkan uang untuk dokter dan obat.

Ibu lalu berpikir bagaimana caranya agar memperoleh uang. Pinjam tetangga atau mengurangi jatah uang belanja. Kedua cara itu rasanya, tak mungkin ditempuh. Bisa-bisa nanti ayah Koko marah.

Kekhawatiran Ibu benar-benar terjadi. Koko jatuh sakit. Ibu sangat sedih, tetapi ayah Koko tak peduli. Ia tahu anaknya sakit lantaran kecewa.

 "Apa kau tak bisa sabar menunggu gajian?" hardik Ayah dengan nada tinggi.

Koko tak menjawab, pura-pura tidur. Ayah semakin jengkel. Melihat suasana seperti itu, Ibu hanya diam. Akan tetapi setelah suaminya berangkat kerja, ia mendekati anaknya.

 "Kau tidak masuk sekolah?" tanya Ibu.

"Koko baru mau ke sekolah kalau sudah nonton sirkus," jawab Koko.

Mendengar jawaban itu Ibu hanya menghela napas. "Ayahmu pasti marah, kau tak sekolah," Ibu mengingatkan.

Koko diam, tak peduli. Hatinya teguh. Satu tekatnya! Nonton sirkus sekarang, agar ia bisa bercerita seperti teman-temannya. Menunggu Ayah gajian? Uuuh, masih lama!

Sekeras-kerasnya hati seorang Ayah, akhirnya luluh juga. Ketika pulang kerja, Ayah mendekati Koko yang masih berbaring.

"Berani menonton sendiri, Ko?" tanya Ayah sambil membuka dompet.

Koko terperanjat, tetapi hatinya berbunga-bunga. Seketika ia bangun. "Koko mau nonton sama Toni," jawabnya sambil tersenyum dan menerima uang itu.

 "Hati-hati, ya!" pesan Ayah.

Koko sangat gembira, sakitnya hilang seketika. Pukul 7.00 malam, Koko menonton sirkus bersama Toni.

Sebelum tidur, ia menyusun cerita untuk teman-temannya. Ceritanya berbeda. Di sirkus yang ditontonnya tadi, ada pertarungan antara manusia dengan ular sawah besar. Pasti teman-temannya akan mendengarkan dengan seksama. Memang, setiap malam acara sirkus di alun-alun berbeda-beda.

Pagi itu, setelah sarapan Koko mendekati ayahnya. "Yah, buatkan surat izin, dong!" pintanya.

Ayah mengangguk dan mulai menulis. Setelah surat itu selesai, Ayah  memasukkannya ke dalam sebuah amplop dan melemnya. "Ini, Ko surat untuk Bu Guru sudah selesai!" ujar Ayah seraya menyerahkannya pada Koko.

Di sekolah sebelum bel berbunyi, Koko bercerita tentang sirkus semalam. Ia bangga banyak temannya yang mendengarkan. Lebih-lebih, ketika ia bercerita tentang pertarungan manusia dengan ular sawah. Sambil bercerita, Koko memperagakan bagaimana pemain sirkus itu bergulat dengan ular. Teman-temannya tertegun. Sampai-sampai Andi, Edi, Hirman ingin menonton lagi. Toni yang tidak pandai bercerita cuma diam saja. Hanya sekali-kali, ia menambahkan. Belum selesai ceritanya, bel sudah berbunyi. Koko agak kecewa, namun ia berjanji akan melanjutkan ceritanya saat istirahat nanti.

 "Koko kemarin ke mana?" tanya Bu Atik ketika semua murid sudah masuk kelas.

 "Sakit, Bu!" jawab Koko sambil menyerahkan surat ayahnya.

 "Sakit apa?" tanya Bu Atik lagi.

Koko tak segera menjawab. Ia bingung harus menjawab bagaimana.

Sementara Bu Atik membaca surat, Koko masih berdiri. Bu Atik membaca surat itu berulang kali. Setelah paham Bu Atik tersenyum.

 "Koko," panggil Bu Atik lagi.

  "Ya, Bu."

  "Seperti biasa, setiap surat izin harus dibaca sendiri di depan kelas, bukan?" ujar Bu Atik.

  "lya, Bu," sahut Koko.

"Bacalah surat izinmu keras-keras, agar teman-teman mendengar," pinta Bu Atik. "Tapi ingat! Jangan berhenti sebelum selesai dibaca," pesannya. "Andaikata kau berhenti dan tak melanjutkan, Ibu terpaksa menghukummu."

  "Baik, Bu," jawab Koko.

Memang, Bu Atik selalu berbuat begitu. Maksudnya untuk melatih murid-muridnya pandai membaca, juga agar bisa membaca tulisan tangan orang lain.

Koko pun mulai membaca.

 Yang terhormat, Bu Atik, guru Koko.

Saya, Koko, kemarin tidak masuk sekolah bukan karena sakit, tetapi lantaran kecewa belum melihat sirkus di alun-alun. Badan saya lemas tak bergairah. Untung sore harinya Ayah memberi uang untuk menonton. Walaupun uang itu adalah uang pinjaman. Koko menonton bersama Toni. Demikian Bu Atik.

Koko mohon maaf yang sebesar-besarnya. Terima kasih.

Seketika meledaklah tawa seluruh temannya. Bu Atik pun tersenyum. Ternyata yang dibaca bukan surat izin seperti biasanya, melainkan cerita Koko mengapa tidak masuk sekolah. Koko sadar, hanya karena malu pada teman belum nonton sirkus, ia harus menebus malu yang lebih malu. ****

Cerita: Fajar Gitarena, Sumber : Majalah Bobo

Author

kidnesia

Tags

Related Article