Buah Ajaib

Buah Ajaib

Dahulu kala di tanah Hindustan terdapat sebuah kerajaan kera. Rajanya berujud seekor monyet besar dengan bulu-bulu seputih kapas.

Berkat kebijaksanaan sang raja, kehidupan rakyatnya tenteram dan damai, jauh dari saling sengketa. Sebab setiap pelanggaran ketertiban akan memperoleh hukuman yang setimpal. Mereka hidup rukun saling bahu membahu.

Kerajaan itu berupa sebuah hutan yang tidak begitu luas, diapit oleh dua buah sungai yang cukup lebar dan deras arusnya. Pohonnya pun tidak seberapa lebat. Sedang pohon buah-buah sebagai cadangan makanan pun tidak seberapa banyak.

Namun kera-kera itu tak pernah berebut. Mereka masing-masing memetik secukupnya saja karena saling mengingat kepentingan kawan-kawan yang lain.

Di tengah hutan itu terdapat sebatang pohon aneh. Sepanjang tahun batangnya tak pernah berdaun, meranggas kering, tetapi sejak berabad-abad tetap tegak berdiri.

Lebih aneh lagi adalah buahnya yang sebesar buah sawo dan tak lebih dari dua butir. Warnanya kuning keemasan, berkilat-kilat bila tertimpa cahaya matahari. Seperti batangnya, buah itu pun tergantung terus di sana!

Karena keajaibannya, kera-kera penghuni hutan itu tak berani mendekat. Apalagi memetik buahnya. Bahkan mengkeramatkannya. Dengan setia mereka bergilir jaga.

Kata raja kera berbulu putih pada suatu hari, "Kita harus menjaga buah ajaib itu jangan sampai jatuh dan hanyut ke sungai. Apabila buah itu hanyut dan ditemukan oleh bangsa manusia, kita akan celaka. Bangsa manusia pasti akan mencari tempat ini."

Tetapi apa boleh buat. Suatu hari timbullah angin kencang. Sedemikian kencangnya angin bertiup sehingga mampu melemparkan monyet-monyet yang sedang bergayutan di cabang pepohonan.

 

kiwi
 

Sebutir buah ajaib terhempas dari kelopaknya dan jatuh ke sungai terbawa oleh arus air sungai. Sia-sia para kera mencoba meraihnya.

Buah ajaib itu tersangkut pada jala seorang nelayan di muara. Nelayan itu heran melihat buah yang bak gumpalan emas. Harumnya melebihi buah apa pun yang pernah dilihatnya.

Karena merasa heran, ia mempersembahkan buah itu ke istana. Raja negeri pun sangat heran melihat buah yang dibawa oleh nelayan. Lalu dikerahkannya prajurit-prajurit kerajaan untuk mencari asal buah emas itu. Sri Baginda sendiri berkenan memimpin.

Setelah menempuh perjalanan berhari-hari menyusuri tepi sungai, akhirnya Sri Baginda beserta laskarnya menemukan pohon buah ajaib itu. Tetapi kehadiran prajurit-prajurit itu mengejutkan kera putih dan rakyatnya.

Malapetaka yang dikhawatirkan telah tiba. Bangsa manusia pasti akan menguasai hutan ini dan mengusir kera-kera. Sebelum kemalangan menimpa, raja kera berusaha menyelamatkan rakyatnya. Dengan sigap dikerahkannya kera-kera jantan mencari akar-akaran.

Setelah banyak terkumpul, akar-akar itu disambung-sambung, diikatkan pada sebatang tonggak di sisi tebing kali. Ternyata ia sedang memerintahkan membuat jembatan penyeberangan.

Namun malang. Jembatan akar-akaran itu kurang sehasta ketika direntangkan. Sudah tak ada waktu lagi. Prajurit-prajurit manusia hampir selesai membuat rakit di sisi sungai yang lain.

 

 
 

Tanpa berpikir panjang raja kera itu mengikatkan ujung tali pada kakinya, kemudian berenang menentang arus mencapai tepian.

Ia mengorbankan dirinya sebagai penyambung jembatan bagi rakyatnya. Lalu dengan kacau balau rakyat kera meniti jembatan menyelamatkan diri.

Sementara raja mereka menahan beban penderitaan. Tepat kera terakhir, monyet putih itu terkulai kehabisan tenaga. Pegangan tangannya terlepas. Tak ampun tubuhnya hanyut. Tetapi karena masih tersangkut pada ujung jembatan yang dibuatnya, ia sangat menderita.

Arus sungai menghempaskan dan mempermainkan tubuhnya timbul tenggelam. Akhirnya ia mati karena terlalu banyak air masuk ke perutnya.

Sri Baginda Raja bangsa manusia tertegun menyaksikannya. Diperintahkannya para perajurit mengangkat bangkai kera budiman itu, serta mengubur sebagaimana layaknya mengubur mayat manusia.

Bahkan Baginda membuatkan nisan dari batu pualam putih sebagai tanda peringatan kebesaran hati seekor monyet yang pantas menjadi suri teladan.

Diceritakan kembali oleh Karsono H. Saputro
Diambil dari Majalah Bobo no.1 Tahun 1982

 

Logo Bobo

 

Author

Sigit Wahyu

Tags

Related Article