Kuda Putih

Kuda Putih

Zaman dahulu di negeri Mesir ada seorang raja yang amat menyintai hewan. Bermacam-macam hewan yang ada di dunia dipelihara baginda, sehingga di sekeliling pekarangan istana penuh dengan kandang hewan dan sangkar burung.

Di antara beratus-ratus macam hewan itu, yang sangat disayang baginda ialah seekor kuda putih. Kuda itu dipelihara  baginda sejak kuda itu berumur setahun. Alangkah bagus dan cepat, lari kuda itu! Pada suatu hari, semua pegawai istana dipanggil baginda, terutama orang-orang yang ditugaskan memelihara hewan.

Setelah mereka berkumpul, bersabdalah baginda. "Wahai, hambaku. Seperti kalian ketahui, kalian memelihara beratus-ratus hewan yang menjadi kesenanganku sehari-hari. Kalian tahu juga, di antara binatang-binatang yang banyak itu, hanya kuda putihlah yang amat kusayangi. Itulah sebabnya, barang siapa kelak datang kepadaku membawa kabar kuda putihku mati, orang itu akan kuusir dari istana. Ia akan kujatuhi hukuman berat. Aku tak mau mendengar kabar kudaku itu mati. Mengertikah kalian?"

Para pegawai istana itu menyembah sambil mengucapkan, "Daulat Tuanku." Mereka mengerti dan menaati perintah baginda. Seusai mengucapkan amanatnya, Baginda pun berkemas-kemas hendak mengadakan tamasya. Semua pegawai kembali ke tempatnya masing-masing.

Namun di antara mereka ada seorang yang kelihatan amat bersusah hati, ialah orang yang memelihara kuda putih baginda. Bagaimana nasibnya jika kuda itu mati? Pikirannya sangat kacau dan hatinya cemas. Walaupun ia boleh beristirahat sesuka hati, selama Baginda bertamasya.

Sebulan kemudian Raja kembali dari tamasya. Alangkah terkejut si penjaga kuda putih itu ketika ia melihat Raja menuntun kudanya sampai ke kandang.

"Wahai penjaga kuda yang setia," sabda Raja. "Waktu menuruni gunung, kaki si putih tergelincir. Kurasa kakinya terkilir. Coba periksalah!"

"Daulat Tuanku, akan patik periksa kaki kuda itu." Kemudian diperiksalah kaki si putih, tetapi manakah kakinya yang terkilir itu? Kecemasan makin menjadi-jadi karena si putih tak mau lagi makan dan minum. Sepanjang hari ia berbaring saja. Keesokan harinya dijumpainya kuda itu telah mati. Matanya tertutup rapat-rapat.

 

kuda putih

Tentu saja penjaga kuda itu sangat bingung. Kalau dikabarkannya kematian si putih itu kepada Raja, tentu ia akan dihukum.

"Bagaimana akal, supaya aku terlepas dari hukuman?" pikirnya seorang diri. "Jika kubiarkan saja kuda itu begini, aku akan dihukum juga. Sebab aku melalaikan kewajiban memberi kabar. Dikabarkan atau tidak, aku akan dihukum pula. Serba salah!" katanya seorang diri.

Setelah dipikirnya baik-baik dan ditimbangnya masak-masak, penjaga kuda itu menghadap kepada Raja.

Sembahnya, "Ampun Tuanku! Patik memberitahukan si Putih sudah tak mau makan dan minum lagi. Matanya terpejam terus dan ia selalu berbaring saja."

"Apa katamu? Kudaku mati?"
"Tidak, Tuanku! Patik tidak katakan mati, tetapi kuda Tuanku sudah tak mau makan dan minum lagi. Matanya terpejam terus. Maunya hanya berbaring tanpa bergerak-gerak."

"Mari kita lihat dia!" Setelah sampai di kandang si Putih, tampaklah oleh Baginda kuda itu benar-benar tak mau makan dan minum lagi. Matanya terpejam dan ia tak bernapas lagi.

"Kalau begini," kata Raja kepada penjaga kuda, "Kuburkanlah dia sebaik-baiknya dan karena kesetiaan dan kecerdikanmu, engkau kuhadiahi sepuluh dinar emas."

Si penjaga kuda sangat bergembira menerima pemberian dari Baginda. Ia terlepas dari hukuman yang berat dan menerima hadiah pula.

Diceritakan kembali oleh: Agam Riadhi Makruf

 

LogoMajalah Bobo

Author

Sigit Wahyu

Tags

Related Article