Mengapa Jin Merah Menangis

Jin Merah

Di sebuah gunung, hiduplah jin kerdil merah. Jin merah ini ingin bersahabat dengan penduduk desa. Ia lalu menggantungkan papan bertuliskan, "Semua orang boleh datang ke rumahku dan makan kembang gula enak." Papan pengumuman itu ia taruh di depan rumahnya.

Suatu hari dua penebang kayu lewat di depan rumah jin merah. Mereka membaca papan pengumuman itu. Salah seorang diantara mereka berkata, "Mari kita masuk dan makan kembang gula. "

Yang satu menjawab, "Tidak, tidak! Pengumuman itu hanya tipu muslihat saja supaya kita masuk ke dalam rumah itu. Jin itu jahat. Jangan masuk!"

       Jin merah mendengar apa yang dikatakan kedua orang itu. la berteriak dari jendela, "Tidak, tidak! Bukan tipu muslihat. Mari, silakan masuk! Makanlah kembang gula dan jadilah teman saya."

Akan tetapi kedua penebang kayu itu takut melihat wajah jin yang merah. Mereka lari sekuat tenaga.  Jin merah sedih. Tak ada orang yang mempercayai pengumumannya. Ia lalu menurunkan pengumuman itu. Pada saat itu teman baiknya, jin biru, datang. Ia menanyakan mengapa jin merah nampak begitusedih.

       Jin biru ingin menolong jin merah. Kemudian berkata, "Saya mempunyai akal bagus. Saya akan turun ke desa dan mengacau di sana. Lalu kau datang. Tangkaplah saya ketika itu. Maka semua orang akan menganggap kau jin yang baik. Mereka akan mau menjadi temanmu."

       Maka keesokan harinya jin biru itu turun ke desa. Ia mengamuk di rumah salah seorang petani. Petani dan istrinya ketakutan. Mereka lari keluar rumah. Jin biru pun mulai memecahkan barang-barang di dalam rumah. Ia baru saja memecahkan poci teh nenek petani dan akan menendang anjing petani itu, ketika jin merah datang berlari-lari ke desa. Ia menangkap jin biru dan pura-pura menghajarnya. Jin biru berteriak-teriak minta ampun.

       Orang-orang desa yang ketakutan berdiri menyaksikan semuanya dari jauh. Akhirnya mereka berkata, "Rupanya jin merah itu baik. Ia punya banyak kembang gula manis di rumahnya. Mari kita ke rumahnya."

       Penduduk desa mulai berdatangan kerumah jin merah. Jin merah sangat senang mempunyai begitu banyak teman baru. Ia selalu memberi mereka kembang gula manis dan teh sedap. Akan tetapi pada suatu hari, ia teringat pada teman baiknya, jin biru. Tidak sekali pun ia datang berkunjung ke rumahnya. 

"Mungkin jin biru sedang dalam kesulitan," katanya. "Saya akan menjenguknya."

       Keesokan harinya jin merah pergi ke rumah jin biru. Rumah itu jauh di gunung. Ia terkejut ketika melihat rumah jin biru kosong. Semua pintu serta jendelanya tertutup. Ia berjalan berkeliling rumah beberapa kali, sambil memikirkan apa yang mungkin terjadi. Akhirnya ia melihat sepucuk surat tertempel pada pintu. Isi surat begini:

Kepadatemanku yang baik, jin merah.

Saya merasa begitu kesepian sehingga saya memutuskan untuk mengembara.

Jika kita saling mengunjungi seperti biasa, orang-orang desa akan tahu, bahwa kita mempermainkan mereka.

Mereka akan tahu, kau sebenarnya tidak menghajar saya. Karena itu saya akan pergi jauh dan meninggalkan kau bersama teman-temanmu yang baru, orang-orang desa. Selamat tinggal.

Temanmu, Jin Biru

 

       Jin merah membaca surat itu sampai dua atau tiga kali. Kemudian air matanya turun. Ia menangis dan menangis.      Ia mempunyai teman-teman baru dari desa. Ia tahu bahwa ia akan merasa bahagia bersama mereka. Tetapi ia juga tahu, ia akan selalu merasa sedih jika ingat temannya yang hilang, jin biru. Mendapat teman baru itu baik. Namun, baik juga mempertahankan teman lama. Itulah sebabnya jin merah menangis. *** (thn)

Sumber : Majalah Bobo

Author

Sigit Wahyu

Tags

Related Article